Selasa, 28 Oktober 2014

Sikunir from Purbalingga



Niat pengin naik ke bukit siKunir di Dataran Tinggi Dieng selalu tertunda. Rasa penasaran masih terus saja muncul. Namun kesempatan rupanya belum berpihak. Ada-ada saja halangan buat naik ke bukit ini.
Ya sudahlah, mungkin belum rejeki. Iseng pengin nginep di bukit dekat SD buat mengobati rasa penasaran suasana malam di dekat SD tempat ngode  tiap hari.
Akhirnya tanpa rencana dan segalanya serba dadakan, deal  bermalam di Bukit Korakan, tepatnya di Watu Geong.
Perjalanan malam ini ga seperti perjalanan pendakian pada umumnya. Gak tau,  hawanya selalu merinding disko, hehehe.
Akhirnya setelah berjalan beberapa waktu, sampai juga di tujuan. Lanjut mendirikan dome, bikin kopi, mi instant, ngobrol, dan akhirnya masuk peraduan.
Merinding takut plus karena hawa dingin berssatu. ditemani rasa penasaran seperti apakah pemandangan esok pagi, apakah bagus, atau tak sesuai harapan.

Daaaannnnnn, jreng jrengggg
Ini hasilnya

>> Sindoro - Sumbing- Prau





>> bonus Gunung Slamet


>> Pemandangan di bawah




Sabtu, 25 Oktober 2014

its Bolang time

Buka file foto, rupanya banyak foto yang sayang kalau dibuang.
mending pasang di blog ini sebagai penghuni awal, hehehehe

Okey, d journey started.
  • Ardi Lawet, Desa Panusupan, Rembang, Purbalingga
         

  • Sunset @watugeong, Desa Karangbawang, Rembang, Purbalingga

  • Dieng 


  • Ambarawa, 1st time go to Ungaran buat ikut TOT Pemanfaatan TIK di SD. Sendiri pake motor, gak tau jalan dan akhirnya rehat di lingkar Ambarawa jam 7 pagi buat menghindari kemacetan


  •  Pertama naksir sama Gunung Sumbing, view dari depan Kantor Kecamatan Kledung, Temanggung

  • Curug Aul, Tanalum, Rembang, Purbalingga

Jumat, 24 Oktober 2014

Ekspedisi "Triple S"

Setelah coba buka blog lama ga bisa, akhirnya harus buat blog baru. sebagai pembuka di blog baru ini, sengaja "Ekspedisi Triple S (Slamet, Sindoro, Sumbing)" jadi hidangan pembuka.
tak lain dan tak bukan karena mendaki gunung mencerminkan langkah hidup seseorang.
Diawali dari persiapan perbekalan untuk mendaki, sama seperti saat kita memulai kehidupan di bangku sekolah. Jika bekal kita lengkap, maka sampai ke puncak kita akan mengurangi resiko gangguan.
Lanjut pendaftaran di basecamp. Inilah awal perjuangan, setelah semua perbekalan kita isi. Dari sini kita memulai segalanya.
Setelah pendaftaran di basecamp, perjalanan dimulai. Layaknya kehidupan, mendaki gunug diawali dari jalan yang masih datar dan halus. Lalu jalanan mulai berubah menyempit, menanjak, dan berbatu.
Jika sebelumnya jalanan sangat aman, maka selanjutnya jalanan lebih berresiko. Jika kita lengah, maka bahaya telah mengintai kita. Kanan dan kiri jalan kini juga berubah menjadi jurang yang menganga. Kewaspadaan sangat dibutuhkan.

Stamina juga semakin menurun, sama halnya dengan perbekalan yang sebelumnya telah dipersiapkan. Manajemen perbekalan sangat diperlukan.
Semakin lama, tenaga yang ada semakin berkurang. Rintangan yang menghadang juga semakin banyak.
Namun kita tak boleh semau sendiri. Banyak aturan yang harus tetap kita pegang teguh. Aturan ini bukan hanya untuk kita, namun aturan ini juga akan berdampak pada orang lain jika kita tidak mematuhi.
Namun segalanya akan terbayar jika kita telah sampai di puncak yang kita tuju.

Pemandangan dari Pos 7 Gunung Slamet (3.428mdpl)
Gunung Sindoro (3.150 ,dpl)
Gunung Sumbing (3.371 mdpl)

"Semakin tinggi kita berada, maka angin akan bertiup lebih kencang."
Silahkan menerjemahkan sendiri arti dari kalimat di atas, hehehe

Salam lestari

Tim ekspedisi :
Gunung Slamet (3.428mdpl) : Febri "bargo", Farid, Afip, Evan, Ringga, Vita "penguin", Arga
Gunung Sindoro (3.150 ,dpl) : Febri "bargo", Farid, Afip, Mano, Khusnul, Yayan, Arga
Gunung Sumbing (3.371 mdpl) : Febri "bargo", Farid, Afip, Arga